Rabu, 18 Januari 2012

askep Abses hepar

BAB I
PENDAHULUAN


A.    Latar Belakang
      Hepar merupakan organ berbentuk biji dalam tubuh kita dengan berat 1,5 kg pada orang dewasa. Letaknya, terdapat pada bagian atas dalam rongga abdomen disebelah kanan bawah diafragma. .Hati secara luas dilindungi tulang iga. Hepar terbagi atas dua lapisan utama; pertama, permukaan atas berbentuk tembung, terletak di bawah diafragma, kedua, permukaan bawah tidak rata dan memperhatikan lekukan fisura transfersus. Fisura longitudional memisahkan belahan kanan dan kiri dibagian atas hati, selanjutnya hati dibagi empat belahan; lobus kanan, lobus kiri, lobus kaudata, dan lobus quadratus.
      Hati mempunyai 2 jenis peredaran darah yaitu; Arteri hepatica dan Vena porta. Vena hepatica, keluar dari aorta dan memberikan 1/5 darah dalam hati, darah ini mempunyai kejenuhan 95-100 % masuk ke hati akan membentuk jaringan kapiler setelah bertemu dengan kapiler Vena, akhirnya keluar sebagai Vena hepatica. Vena porta terbentuk dari lienalis dan Vena mesentrika superior menghantarkan 4/5 darahnya ke hati, darah ini mempunyai kejenuhan 70% sebab beberapa O2 telah diambil oleh limfe dan usus, guna darah ini membawa zat makanan ke hati yang telah diabsorbsi oleh mukosa dan usus halus.
      Hati dapat dianggap sebagai sebuah pabrik kimia yang membuat, menyimpan, mengubah dan mengekskresikan sejumlah besar substansi yang terlibat dalam metabolisme. Lokasi hati sangat penting dalam pelaksanaan fungsi ini karena hati menerima darah yang kaya nutrien langsung dari traktus gastrointestinal; kemudian hati akan menyimpan atau mentransformasikan semua nutrient ini menjadi zat-zat kimia yang digunakan dibagian lain dalam tubuh untuk keperluan metabolik. Hati merupakan organ yang penting khususnya dalam pengaturan metabolisme glukosa dan protein. Hati membuat dan mengekresikan empedu yang memegang peran uatama dalam proses pencernaan serta penyerapan lemak dalam tractus gastrointestinal. Organ ini mengeluarkan limbah produk dari dalam aliran darah dan mensekresikannya ke dalam empedu.

B.     Tujuan Penulisan
1.      Untuk mengetahui definisi penyakit abses hepar.
2.      Untuk mengetahui Penyebab, patofisiologi, serta pengobatan abses hepar.
3.      Untuk mengetahui pengkajian keperawatan, diagnose keperawatan, dan intervensi keperawatan pada abses hepar.

BAB II
ISI

A.    Konsep Penyakit
1.      Defenisi
Abses adalah pengumpulan cairan nanah tebal, berwarna kekuningan disebabkan oleh bakteri, protozoa atau invasi jamur kejaringan tubuh. Abses dapat terjadi di kulit, gusi, tulang, dan organ tubuh seperti hati, paru-paru, bahkan otak, area yang terjadi abses berwarna merah dan menggembung, biasanya terdapat sensasi nyeri dan panas setempat.
Abscess adalah kumpulan nanah setempat dalam rongga yang tidak akibat kerusakan jaringan, Hepar adalah hati.
Jadi Abses hepar adalah rongga berisi nanah pada hati yang diakibatkan oleh infeksi.

2.      Etiologi
Infeksi terutama disebabkan oleh kuman gram negatif dan penyebab yang terbanyak adalah E. coli, penyebab lainnya adalah :
Organisme Insiden (%) Organisme Insidensi (%)
Aerob gram-negatif
Escherichia coli
Klebsiella
Proteus
Serratia
Morganella
Actinolbacter
Aerobgaram-positif
Streptococcus faecalis
Streptokokus – B
Sterptokokus – A
Stafilokokus …
Anaerob
Fusdaacterium nucleatum
Bacteroides
Bacteroides fragil
Peptostreptococus
Actinomyces
Clostridium …..

3.      Tanda dan Gejala
            Abses adalah tahap terakhir dari suatu infeksi jaringan yang diawali dengan proses yang disebut peradangan.
Awalnya, seperti bakteri mengaktifkan sistem kekebalan tubuh, beberapa kejadian terjadi:
a.       Darah mengalir ke daerah meningkat.
b.      Suhu daerah meningkat karena meningkatnya pasokan darah.
c.       Wilayah membengkak akibat akumulasi air, darah, dan cairan lainnya.
d.      Ternyata merah.
e.       Rasanya sakit, karena iritasi dari pembengkakan dan aktivitas kimia.
f.       Keempat tanda-panas, bengkak, kemerahan, dan sakit-ciri peradangan

4.      Klasifikasi
            Ada dua jenis abses, septikp dan steril. Kebanyakan abses adalah septik, yang berarti bahwa mereka adalah hasil dari infeksi. Septic abses dapat terjadi di mana saja di tubuh. Hanya bakteri dan respon kekebalan tubuh yang diperlukan. Sebagai tanggapan terhadap bakteri, sel-sel darah putih yang terinfeksi berkumpul di situs tersebut dan mulai memproduksi bahan kimia yang disebut enzim yang menyerang bakteri dengan terlebih dahulu tanda dan kemudian mencernanya. Enzim ini membunuh bakteri dan menghancurkan mereka ke potongan-potongan kecil yang dapat berjalan di sistem peredaran darah sebelum menjadi dihilangkan dari tubuh. Sayangnya, bahan kimia ini juga mencerna jaringan tubuh. Dalam kebanyakan kasus, bakteri menghasilkan bahan kimia yang serupa. Hasilnya adalah tebal, cairan-nanah kuning yang mengandung bakteri mati, dicerna jaringan, sel-sel darah putih, dan enzim.
Abses steril kadang-kadang bentuk yang lebih ringan dari proses yang sama bukan disebabkan oleh bakteri, tetapi oleh non-hidup iritan seperti obat-obatan. Jika menyuntikkan obat seperti penisilin tidak diserap, itu tetap tempat itu disuntikkan dan dapat menyebabkan iritasi yang cukup untuk menghasilkan abses steril. Seperti abses steril karena tidak ada infeksi yang terlibat. Abses steril cukup cenderung berubah menjadi keras, padat benjolan karena mereka bekas luka, bukan kantong-kantong sisa nanah.
a.       Carbuncles dan bisul. Kelenjar minyak kulit (kelenjar sebasea) di bagian belakang atau bagian belakang leher biasanya adalah orang-orang terinfeksi. Yang paling sering terlibat bakteri Staphylococcus aureus. Jerawat adalah suatu kondisi serupa yang melibatkan kelenjar sebaceous pada wajah dan punggung.
b.      Pilonidal kista. Banyak orang cacat lahir sebagai sebuah lubang kecil di kulit tepat di atas anus. Tinja bakteri dapat memasuki pembukaan ini, menyebabkan infeksi dan abses berikutnya.
c.       Retropharyngeal, parapharyngeal, peritonsillar abses. Sebagai akibat dari infeksi tenggorokan, seperti radang tenggorokan dan tonsilitis, bakteri dapat menyerang jaringan yang lebih dalam tenggorokan dan menyebabkan abses. Abses ini dapat berkompromi menelan dan bahkan bernapas.
d.      Lung abses. Selama atau setelah radang paru-paru, apakah itu disebabkan oleh bakteri [Common radang paru-paru], tuberkulosis, jamur, parasit, atau bakteri lain, abses dapat berkembang sebagai komplikasi.
e.       Hati abses. Bakteri atau amuba dari usus dapat menyebar melalui darah ke hati dan menyebabkan abses.
f.       Psoas abses. Jauh di bagian belakang perut, di kedua sisi tulang belakang pinggang, terletak otot psoas. Mereka flex pinggul. Abses dapat mengembangkan di salah satu otot, biasanya ketika itu menyebar dari usus buntu, usus besar, atau saluran tuba.

5.      Patofisiologi
Pengaruh Abses Heper terhadap kebutuhan dasar manusia
a.       Amuba yang masuk menyebabkan peradangan hepar sehingga mengakibatkan infeksi
b.      Kerusakan jaringan hepar menimbulkan perasaan nyeri
c.       Infeksi pada hepar menimbulkan rasa nyeri sehingga mengalami gangguan tidur atas pola tidur.
d.      Abses menyebabkan metabolisme dihati menurun sehingga menimbulkan perubahan nutrisi kurang dari kebutuhan.
e.       Metabolisme nutrisi di hati menurun menyebabkan produksi energi menurun sehingga dapat terjadi intoleransi aktifitas fisik.

6.      Manifestasi Klinis
            Keluhan awal: demam/menggigil, nyeri abdomen, anokresia/malaise, mual/muntah, penurunan berat badan, keringan malam, diare, demam (T > ), hepatomegali,°38 nyeri tekan kuadran kanan atas, ikterus, asites, serta sepsis yang menyebabkan kematian. (Cameron 1997)

7.      Komplikasi
            Komplikasi yang paling sering adalah berupa rupture abses sebesar 5 – 15,6%, perforasi abses keberbagai organ tubuh seperti ke pleura, paru, pericardium, usus, intraperitoneal atau kulit. Kadang-kadang dapat terjadi superinfeksi, terutama setelah aspirasi atau drainase. (Menurut Julius, Ilmu penyakit dalam, jilid I, 1998)

8.      Pemeriksaan Penunjang
a.       Laboratorium
Untuk mengetahui kelainan hematologi antara lain hemoglobin, leukosit, dan pemeriksaan faal hati.
b.      Foto dada
Dapat ditemukan berupa diafragma kanan, berkurangnya pergerakan diafragma, efusi pleura, kolarp paru dan abses paru.
c.       Foto Polos Abdomen
Kelainan dapat berupa hepatomegali, gambaran ileus, gambaran udara bebas di atas hati.
d.      Ultrasonografi
Mendeteksi kelainan traktus bilier dan diafragma.
e.       Tomografi
Melihat kelainan di daerah posterior dan superior, tetapi tidak dapat melihat integritas diafragma
f.       Pemeriksaan serologi
Menunjukkan sensitifitas yang tinggi terhadap kuman.
g.      Pengobatan
1)      Kemoterapi
Obat-obatan dapat diberikan secara oral atau intravena, sebagai contoh untuk gram negative di beri Metranidazol, Clindazimin atau Kloramfenikal.
2)      Aspirasi Jarum
Pada abses yang kecil atau tidak toksik tidak perlu dilakukan aspirasi, hanya dilakukan pada ancaman truktur atau gagal pengobatan konserpatif. Sebaliknya aspirasi ini dilakukan dengan tuntunan USG.




B.     Konsep Keperawatan
1.      Pengkajian
a.       Aktivitas/istirahat, menunjukkan adanya kelemahan, kelelahan, terlalu lemah, latergi, penurunan massa otot/tonus.
b.      Sirkulasi, menunjukkan adanya gagal jantung kronis, kanker, distritmia, bunyi jantung ekstra, distensi vena abdomen.
c.       Eliminasi, Diare, Keringat pada malam hari menunjukkan adanya flatus, distensi abdomen, penurunan/tidak ada bising usus, feses warna tanah liat, melena, urine gelap pekat.
d.      Makanan/cairan, menunjukkan adanya anoreksia, tidak toleran terhadap makanan/tidak dapat mencerna, mual/muntah, penurunan berat badan dan peningkatan cairan, edema, kulit kering, turgor buruk, ikterik.
e.       Neurosensori, menunjukkan adanya perubahan mental, halusinasi, koma, bicara tidak jelas.
f.       Nyeri/kenyamanan, menunjukkan adanya nyeri abdomen kuadran kanan atas, pruritas, sepsi perilaku berhati-hati/distraksi, focus pada diri sendiri.
g.      Pernapasan, menunjukkan adanya dispnea, takipnea, pernapasan dangkal, bunyi napas tambahan, ekspansi paru terbatas, asites, hipoksia.
h.      Keamanan, menunjukkan adanya pruritas, demam, ikterik, ekimosis, patekis, angioma spider, eritema.
i.        Seksualitas, menunjukkan adanya gangguan menstruasi, impotent, atrofi testis.

2.      Diagnosa Keperawatan
Menurut Doenges,E.M (2000), diagnosa keperawatan pasien dengan Abses Hepar meliputi :
a.         Pola napas, tidak efektif berhubungan dnegan Neuromuskular, ketidakseimbangan perceptual/kognitif.
b.        Perubahan persepsi/sensori: proses pikir berhubungan dengan perubahan kimia: penggunaan obat-obat farmasi.
c.         Kekurangan volume cairan, resiko tinggi terhadap pembatasan pemasukan cairan secara oral (proses/prosedur medis/adanya rasa mual).
d.        Nyeri (akut) berhubungan dengan gangguan pada kulit, jaringan, dan integritas otot.
e.         Kerusakan integritas kulit berhubungan dengan interupsi mekanisme pada kulit/jaringan.
f.         Resiko tinggi infeksi berubungan dengan luka oprasi dan prosedur invasif.
g.        Gangguan kebutuhan tidur berhubungan dengan proses penyakit, efek hospitalisasi, perubahan lingkungan
h.        Kurang pengetahuan (kebutuhan belajar) tentang kondisi/situasi, prognosis, kebutuhan pengobatan.

3.      Intervensi Keperawatan dan Rasional Tindakan
Perencanaan berdasarkan Doenges,E.M (2000) perawatan pasien pasca operatif
a.       Pola napas tidak efektif berhubungan dengan ketidakseimbangan perceptual/kognitif.
Tujuan : pola pernapasan normal/ efektif dan bebas dari sianosis atau tanda-tanda hipoksia.
Intervensi :
1)      Pertahankan jalan udara pasien memiringkan kepala
2)      Auskultasi suara napas.
3)      Observasi frekuensi dan kedalaman pernapasan, pemakaian otot-otot bantu pernapasan.
4)      Pantau tanda-tanda vital secara terus-menerus.
5)      Lakukan gerak sesegera mungkin
6)      Observasi terjadinya yang berlebih
7)      Lakukan penghisapan lendir bila perlu
8)      Berikan tambahan oksigen sesuai kebutuhan
9)      Berikan terapi sesuai instruksi

b.      Perubahan persepsi/ sensori: proses pikir berhubungan dengan penggunaan obat-obat farmasi.
Tujuan : meningkatnya tingkat kesadaran.
Intervensi :
1)      Orientasikan kembali pasien secara terus-menerus setelah keluar dari pengaruh anestasi
2)      Bicara dengan pasien dengan suara yang jelas dan normal.
3)      Minimalkan diskusi yang bersifat negatif.
4)      Gunakan bantalan pada tepi lakukan pengikatan jika perlu.
5)      Observasi akan adanya halusinasi, depresi dan lain-lain.
6)      Pertahankan lingkungan tenang dan nyaman.

c.       Resiko tinggi terhadap kekurangan volume cairan berhubungan dengan pembatasan pemasukan cairan secara oral (proses penyakit/ prosedur medis/ adanya rasa mual).
Tujuan : terdapat keseimbangan cairan yang adekuat.
Intervensi :
1)      Ukur dan catat pemasukan dan pengeluaran.
2)      2) Kaji pengeluaran urinarius, terutama untuk tipe prosedur operasi yang dilakukan.3
3)      Pantau tanda-tanda vital.
4)      Catat munculnya mual/muntah, riwayat pasien mabuk perjalanan.
5)      Periksa pembalut, alat drein pada interval regular, kaji luka untuk terjadinya pembengkakan.
6)      Berikan cairan parenteral, produksi darah dan/atau plasma ekspander sesuai petunjuk. Tingkat kecepatan IV jika diperlukan.
7)      Berikan kembali pemasukan oral secara berangsur-angsur sesuai petunjuk.
8)      Berikan antiemetik sesuai kebutuhan

d.      Nyeri berhubungan dengan gangguan pada kulit, jaringan dan integritas otot, trauma muskoluskeletal/ tulang, munculnya saluran dan selang.
Tujuan : rasa nyeri/ sakit telah terkontrol/ dihilangkan,klian dapat beristirahat dan beraktivitas sesuai kemampuan.
Intervensi :
1)      Kaji skala nyeri, intensitas, dan frekuensinya.
2)      Evaluasi rasa sakit secara regular.
3)      Kaji tanda-tanda vital.
4)      Kaji penyebab ketidaknyamanan yang mungkin sesuai prosedur operasi.
5)      Letakkan reposisi sesuai petunjuk.
6)      Dorong penggunaan teknik relaksasi.
7)      Berikan obat sesuai petunjuk.

e.       Kerusakan integritas kulit berhubungan dengan ketidakcukupan kekuatan dan ketahanan kesehatan.
Tujuan : klien menunjukkan tindakan untuk meningkatkan metabolic.
Intervensi :
1)      Kaji kembali kemampuan dan keadaan secara fungsional
2)      Letakkan klien pada posisi tertentu.
3)      Pertahankan kesejahteraan tubuh secara fungsional.
4)      Bantu atau tindakan untuk melakukan latihan rentang gerak.
5)      Berikan perawatan kulit dengan cermat.
6)      Pantau haluaran urine.

f.       Resiko tinggi infeksi berhubungan dengan adanya luka operasi dan prosedur invasive.
Tujuan : tidak terdapat tanda-tanda dan gejala infeksi.
Intervensi :
1)      Berikan perawatan aseptik dan anti septik, pertahankan cuci tangan yang baik.
2)      Observasi daerah kulit yang mengalami kerusakan (luka jahitan) daerah yang terpasan alat invasif.
3)      Pantau seluruh tubuh secara teratur, catat adanya demam, menggigil dan diaphoresis
4)      Awasi atau jumlah penggunjung
5)      Observasi warna dan kejarnya uring
6)      Berikan anti biotik sesuai indikasi.

g.      Gangguan kebutuhan istirahat tidur berhubungan dengan perubahan lingkungan dan proses hospitali.
Tujuan : kebutuhan istirahat dapat terpenuhi.
Intervensi :
1)      Kaji kemampuan dan kebiasaan tidur klien
2)      Berikan tempat tidur yang nyaman dengan beberapa barang milik pribadinya contoh : Sarung, guling
3)      Dorong aktifitas ringan
4)      Intruksikan tindakan relaksasi
5)      Dorong keluarga untuk selalu menemani.
6)      Awasi dan batasi jumlah penggunjung

h.      Kurang pengetahuan (kebutuhan belajar) tentang kondisi/ situasi, prognosis kebutuhan istirahat.
Tujuan : menyatakan pemahaman proses penyakit/ prognosis.
Intervensi :
1)      Tinjau ulang pembedahan/prosedur khusus yang dilakukan dan harapan masa dating.
2)      Diskusikan terapi obat-obatan, meliputi penggunaan resep.
3)      Indentifkasi keterbatasan aktivitas khusus.
4)      Jadwalkan priode istirahat adekuat.
5)      Tekankan pentingnya kunjungan lanjut.
6)      Libatkan orang terkenal dalam program pengajaran. Menyediakan instruksi tertulis/materi pengajaran.
7)      Ulangi pentingnya diita nutrisi dan pemasukan cairan adekuat.

4.      Implementasi Keperawatan
Prinsip tindakan yang yang mendasari penanganan diagnose keperawatan yang mungkin timbul adalah :
a.       Mempertahankan pola nafas efektif
b.      Mempertahankan tingkat kesadaran klien
c.       Mempertahankan keseimbangan cairan
d.      Menerapkan manajemen nyeri
e.       Mencegah terjadinya infeksi
f.       Mempertahankan dan meningkatkan kebutuhan istrahat
g.      Meningkatkan pengalaman pasien tentang proses penyakit dan prognosis.

5.      Evaluasi
Evaluasi yang diharapkan adalah :
a.       Pola napas efektif
b.      Kesadaran klien stabil
c.       Volume cairan adekuat
d.      Berkurang atau hilangnya nyeri
e.       Infeksi tidak terjadi
f.       Kebutuhan istrahat klien dapat terpenuhi
g.      Klien dapat memahami tentang proses penyakit

BAB III
PENUTUP
 
A.    Kesimpulan
      Abses hepar adalah rongga yang berisi nanah pada hati yang disebabkan oleh infeksi. Abses hepar kebanyakan disebabkan oleh kuman gram negatif yang salah satunya adalah E.coli. Abses hepar biasa menyebabkan pola aktivitas penderita menurun, kebutuhan dasar juga terhambat dan terlebih pada proses metabolic hati menurun. Komplikasi yang sering terjadi yaitu berupa reptur abses sebesar 5 - 15,6% dan kadang-kadang terjadi superinfeksi, terutama setelah aspirasi atau drainase.
Adapun cara pengobatan abses hepar dapat dilakukan dengan dua cara yaitu melalui kemoterapi dan Aspirasi jarum.
Hasil akhir yang ingin dicapai dalam perawatan pasien abses hepar yaitu terpenuhinya segala kebutuhan pasien dan pemahaman pasien terhadap perjalanan penyakit yang dideritanya serta cara penanganan penyakit dengan sebelumnya memberikan  Health Education.

B.     Saran
1.      Perhatikan perubahan status kesehatan yang terjadi pada psien.
2.      Jika implementasi kurang, maka berikan implementasi kolaborasi.

DAFTAR PUSTAKA

Cameeron ( 1995 ). Prinsip-prinsip Penyakit Dalam. Jakarta: Binarupa Aksara

Dengoes, et al ( 2000 ). Rencana Asuhan Keperawatan. Edisi III. Jakarta: Buku kedokteran ECG.

Harrison ( 1995 ). Prinsip-prinsip Penyakit Dalam. Jakarta: Buku kedokteran ECG.
J. c. e. Underwood ( 2000 ).Patologi Umum dan Sistematika. Edisi II. Jakarta: Balai Penerbitan Buku Kedokteran ECG.

Noer Sjaifoellah ( 1996 ). Buku Ajaran Ilmu Penyakit Dalam. Edisi III. Jakarta: Balai Penerbitan FKUI.

Staf Pengajar Parasitologi ( 2003 ). Protozoa. Malang : Fakultas Kedokteran Unibraw.

Bruner dan Suddarth ( 2000 ). Buku Ajaran KMB. Edisi 8. Jakarta: ECG

Microsoft Encantta Reference Library.( 2004 ). Liver, Amebiasis Abses and Calf Diphteria/ Fusa bakteriun necrosphorum.

Harjono, et al ( 1996 ).Kamus Kedokteran Dorland. Edisi 26. Jakarta: Buku kedokteran ECG.

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar